Pulau Runduma, Surganya Penyu
Rabu, 30 Januari 2008 | 16:15 WIB
KENDARI, RABU - Runduma adalah surga bagi penyu. Disebut demikian karena di pulau berpasir putih ini, penyu bebas beranak-pinak membentuk koloni, tanpa gangguan manusia.
Pulau di tengah Laut Banda dan termasuk wilayah Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara ini, sesungguhnya bukan pulau tak berpenghuni. Ada 140 kepala keluarga yang bermukim di pulau itu yang sangat mencintai alam dan pulau mereka, sehingga penyu merasa aman hidup berdampingan.
Terumbu karang di perairan Laut Banda juga masih lestari. Warga Desa Runduma, Kecamatan Tomia menghargai kehidupan biota laut dan sangat menjaga terumbu karang di kawasan itu. Mereka tak pernah merusaknya, karena terumbu karang bagi mereka seperti "ibu", yang memberi kehidupan. Mereka menangkap ikan hanya dengan menggunakan alat konvensional, seperti pukat dan jala saja.
Mereka pantang menggunakan alat modern apalagi sampai melakukan pemboman ikan yang dapat merusak terumbu karang. Mereka paham terumbu karang adalah tempat berkembang biaknya biota laut, khususnya ikan dan penyu. Jika terumbu karang hancur maka ikan dan penyu tak akan ada lagi.
Khusus penyu, di sebelah Pulau Runduma terdapat pulau kecil yang sama sekali tidak berpenghuni. Di pulau tanpa nama, rakyat Runduma membiarkan penyu-penyu bertelur.
Untuk mengawasi perkembangbiakan penyu, pengawas dari Taman Nasional Wakatobi setiap bulan melakukan kunjungan. Tujuannya untuk melihat, sekaligus menghitung pertambahan populasi penyu di sekitar pulau tersebut.
Sebelum pegawas Konservasi Taman Nasional Wakatobi meningkatkan pengawasan di sekitar terumbu karang Wakatobi, kerap kali pengganggu dari luar Wakatobi datang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak. Bahkan ada yang berani melakukan pembiusan dengan kompresor.
Mereka menyelam hingga ke dasar karang menebar bius dan membunuh ikan dan biota laut lain. Akibat perbuatan tersebut, terumbu karang rusak. Ikan-ikan yang belum saatnya dipanen mati terkena bius ikan.
Menurut Siwa, warga Desa Runduma, yang melakukan pengembomam, pembiusan dan perburuan telur penyu dan sekaligus penyunya adalah warga di luar Pulau Runduma.
"Namun, kami warga Runduma yang kerap dituding melakukan itu semua. Padahal bukan kami, melainkan orang luar yang datang merusak terumbu karang," kata Siwa.
Agar populasi penyu tetap terpelihara dengan baik di Pulau Runduma, Bupati Wakatobi, Hugua, terus meningkatkan pengawasan, baik pengawasan pihak Taman Nasional Wakatobi, instansi teknis terkait maupun kelompok masyarakat yang sudah mendapat pembinaan.
Ternyata pengawasan bukan satu-satunya cara yang efektif agar kelestarian terumbu karang tetap terpelihara hingga biota laut tetap berkembangbiak dengan baik, pendekatan budaya lokal lebih efektif, kata Hugua yang juga aktivis lingkungan itu.
Sang Bupati yang pernah menyaksikan cara penyu bertelur di hamparan pasir Pulau Runduma, mengatakan bahwa penyu memiliki cara unik untuk mengelabui perbuatan tangan-tangan jahil. Misalnya saja, penyu bertelur dengan cara menggali pasir, penyu berjalan beberapa meter lalu kemudian menghilangkan jejak kakinya.
500 Jenis
Wakatobi memiliki lebih dari 500 jenis terumbu karang yang tersebar pada "atol" terpanjang di dunia yang mencapai 47 kilometer. Secara umum jenis karang yang mendominasi ekosistem terumbu karang di daerah ini adalah Acropora spp dan Porites spp. Kehidupan biota laut sangat indah. Ikan-ikan yang hampir tidak dijumpai di perairan lain di Indonesia, bahkan di negara mana pun dapat ditemui di Wakatobi.
"Sea hourse", ikan kodok, ikan Napoleon, ikan termahal di dunia masih dapat ditemukan di sela-sela terumbu karang Wakatobi.
Perhatian terhadap terumbu karang Wakatobi bukan hanya pemerintah daerah tetapi telah menarik perhatian dunia. Oleh Bank Dunia anggaran yang dikucurkan melalui program Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) telah mencapai puluhan miliar rupiah.
Kadis Perikanan dan Kelautan Sultra, Askabul Kijo mengatakan, kelestarian terumbu karang membutuhkan perhatian semua pihak. Kehadiran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk melestarikan terumbu karang dan biota laut membantu pemerintah daerah, kata Askabul.
Pengunjung yang berminat menikmati wisata di gugusan empat pulau besar di Wakatobi (Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko) dapat menggunakan beberapa alternatif. Wisatawan bisa menggunakan transporasi udara milik investor wisata Mr. Lorens di Pulau Onemobaa. Transportasi udara ini merupakan satu-satunya yang bisa menjangkau Wakatobi. Itupun harus melalui bandara udara Ngurah Rai, Denpasar. Biaya mencapai belasan juta rupiah.
Dapat pula melalui jalur laut, yakni dari Kendari menumpang kapal cepat ke Kota Baubau kemudian menggunakan kapal kayu menuju Pelabuhan Wangi-Wangi. Biaya sekitar Rp800 ribu pulang pergi (PP). Memang relatif mahal, tapi itu akan terbayar tunua dengan keindahan panorama yang ditawarkan Rundama.
KOMPAS.COM
Minggu, 25 April 2010
PENYU BELIMBING BERENANG DARI PAPUA KE OREGON
Seekor Penyu Belimbing Berenang dari Papua ke Oregon
Jumat, 8 Februari 2008 | 21:44 WIB
BANGKOK, JUMAT - Perjalanan seekor penyu belimbing (Dermochelys coriacea) ini mungkin yang terpanjang sepanjang sejarah. Betapa tidak, untuk mencari makan ia harus berenang dari pantai Papua hingga ke pantai Oregon, AS.
"Ini seekor hewan yang sangat cocok untuk melakukan perjalanan seperti ini," kata Scott Benson, peneliti bidang biologi kelautan dari National Marine Fisheries Service AS. Lembaga yang ikut menyokong program pemantaun penyu ini melaporkan hasil pelacakannya bulan lalu.
Penyu selama ini dikenal sebagai hewan laut yang memiliki daya jelajah sangat luas. Penyu belimbing banyak bertelur di kawasan pantai Indonesia yang masih bebas dari gangguan aktivitas manusia, namun begitu bertelur, mereka menjelajah hingga ribuan kilometer.
Jejak perjalanan penyu dilacak melalui alat penerima sinyal satelit yang ditempelkan di tempurungnya. Enam ekor penyu dipasangi alat tersebut sejak tahun 2003.
Salah satunya tercatat melakukan perjalanan paling jauh dengan berenang hingga ke Oregon. Penyu tersebut sedang dalam perjalanan kembali ke Hawaii sebelum baterai transmiternya mati. Total jarak terjauh yang sudah ditempuh penyu tersebut mencapai 20.438 kilometer selama 647 hari.
kompas.com
Jumat, 8 Februari 2008 | 21:44 WIB
BANGKOK, JUMAT - Perjalanan seekor penyu belimbing (Dermochelys coriacea) ini mungkin yang terpanjang sepanjang sejarah. Betapa tidak, untuk mencari makan ia harus berenang dari pantai Papua hingga ke pantai Oregon, AS.
"Ini seekor hewan yang sangat cocok untuk melakukan perjalanan seperti ini," kata Scott Benson, peneliti bidang biologi kelautan dari National Marine Fisheries Service AS. Lembaga yang ikut menyokong program pemantaun penyu ini melaporkan hasil pelacakannya bulan lalu.
Penyu selama ini dikenal sebagai hewan laut yang memiliki daya jelajah sangat luas. Penyu belimbing banyak bertelur di kawasan pantai Indonesia yang masih bebas dari gangguan aktivitas manusia, namun begitu bertelur, mereka menjelajah hingga ribuan kilometer.
Jejak perjalanan penyu dilacak melalui alat penerima sinyal satelit yang ditempelkan di tempurungnya. Enam ekor penyu dipasangi alat tersebut sejak tahun 2003.
Salah satunya tercatat melakukan perjalanan paling jauh dengan berenang hingga ke Oregon. Penyu tersebut sedang dalam perjalanan kembali ke Hawaii sebelum baterai transmiternya mati. Total jarak terjauh yang sudah ditempuh penyu tersebut mencapai 20.438 kilometer selama 647 hari.
kompas.com
TELOR PENYU LANGKA, DIJUAL Rp 10.000
Telor Penyu Langka Itu Dijual Rp 10.000
Minggu, 31 Januari 2010 | 07:42 WIB
Peneliti penyu dari Sea Turtle Information Centre of Indonesia (Setia), Harfiandri Damanhuri menilai Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) belum secara optimal melakukan upaya untuk melindungi hewan langka penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di perairan laut daerah ini.
"Pemprov Sumbar melalui Dinas Kelautan dan Perikanan belum secara sungguh-sungguh melakukan perlindungan, terbukti kembali ditemukan perdagangan bebas telur penyu belimbing di Kota Padang," katanya di Padang, Minggu (31/1/2010).
Hasil penelitian Setia telah menemukan adanya penjualan telur penyu langka itu beberapa hari lalu di Pantai Muaro, Padang sebanyak 60 butir dengan harga Rp 10 ribu perbutir.
Telur-telur hewan dilindungi itu berasal dari Pulau Toran, Kota Padang. Telur-telur itu berukuran berat 0,060 sampai 0,065 gram, dengan diameter antara 4,7 cm sampai lima centimeter.
Temuan ini cukup mengagetkan, karena dalam lima tahun terakhir diperkirakan hewan langka tersebut tidak lagi singgah untuk bertelur di pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di Sumbar.
Berdasarkan data Setia, penyu belimbing pernah ditemukan tersangkut jaring nelayan di perairan laut Pulau Kasiek Kota Pariaman pada tahun 2001, dan nelayan melepaskan kembali ke laut.
Pada November 2005, kembali ditemukan pedagang menjual telur penyu belimbing, yang diperkirakan berasal dari pantai atau pulau kecil di Kota Pariaman yang berjumlah 90 butir.
"Lima tahun kemudian, yakni pada Januari 2010, kembali kami temukan perdagangan bebas telur penyu belimbing di Kota Padang," kata Harfiandri.
Penemuan ini, menurut dia, menunjukkan masih terjadi pemburuan telur penyu Belimbing oleh nelayan, padahal hewan ini dilindungi dan termasuk binatang langka di dunia.
Dengan demikian, sampai saat ini belum tampak upaya yang dilakukan dinas terkait untuk membantu menyelamatkan telur-telur yang diambil secara sengaja ini.
"Padahal, Sumbar merupakan salah satu dari 15 provinsi di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi penyu," katanya.
KOMPAS.COM
Minggu, 31 Januari 2010 | 07:42 WIB
Peneliti penyu dari Sea Turtle Information Centre of Indonesia (Setia), Harfiandri Damanhuri menilai Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) belum secara optimal melakukan upaya untuk melindungi hewan langka penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di perairan laut daerah ini.
"Pemprov Sumbar melalui Dinas Kelautan dan Perikanan belum secara sungguh-sungguh melakukan perlindungan, terbukti kembali ditemukan perdagangan bebas telur penyu belimbing di Kota Padang," katanya di Padang, Minggu (31/1/2010).
Hasil penelitian Setia telah menemukan adanya penjualan telur penyu langka itu beberapa hari lalu di Pantai Muaro, Padang sebanyak 60 butir dengan harga Rp 10 ribu perbutir.
Telur-telur hewan dilindungi itu berasal dari Pulau Toran, Kota Padang. Telur-telur itu berukuran berat 0,060 sampai 0,065 gram, dengan diameter antara 4,7 cm sampai lima centimeter.
Temuan ini cukup mengagetkan, karena dalam lima tahun terakhir diperkirakan hewan langka tersebut tidak lagi singgah untuk bertelur di pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di Sumbar.
Berdasarkan data Setia, penyu belimbing pernah ditemukan tersangkut jaring nelayan di perairan laut Pulau Kasiek Kota Pariaman pada tahun 2001, dan nelayan melepaskan kembali ke laut.
Pada November 2005, kembali ditemukan pedagang menjual telur penyu belimbing, yang diperkirakan berasal dari pantai atau pulau kecil di Kota Pariaman yang berjumlah 90 butir.
"Lima tahun kemudian, yakni pada Januari 2010, kembali kami temukan perdagangan bebas telur penyu belimbing di Kota Padang," kata Harfiandri.
Penemuan ini, menurut dia, menunjukkan masih terjadi pemburuan telur penyu Belimbing oleh nelayan, padahal hewan ini dilindungi dan termasuk binatang langka di dunia.
Dengan demikian, sampai saat ini belum tampak upaya yang dilakukan dinas terkait untuk membantu menyelamatkan telur-telur yang diambil secara sengaja ini.
"Padahal, Sumbar merupakan salah satu dari 15 provinsi di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi penyu," katanya.
KOMPAS.COM
POPULASI PENYU DI LAMPUNG TERANCAM
Populasi Penyu di Lampung Terancam
Selasa, 30 Maret 2010 | 18:20 WIB
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Tanpa upaya penyelamatan konkret, populasi penyu di tanah air, khususnya Provinsi Lampung, bisa musnah. Induk penyu di pesisir Lampung Barat, salah satu kawasan habitat terbesar penyu, kini tersisa 308 ekor.
"Jumlah ini sangat sedikit jika dibandingkan panjang garis pantai tempat habitat penyu di Lampung Barat, yaitu 221 kilometer," ungkap Kepala Seksi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur, Naznan Meureka, Selasa (30/3/2010) di Seminar Kolaborasi Kebijakan pada Konservasi Penyu yang diadakan LSM Mitra Bentala.
Dari tujuh spesies penyu yang tersisa di dunia, enam diantaranya berada di Indonesia. Empat diantaranya kerap bertelur di Lampung Barat, yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik ( Erethmochyelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacca) dan penyu belimbing (Dermochelys coreacea).
Populasi penyu belimbing berkurang dratis, yaitu 97 persen dalam 22 tahun terakhir, kurang dari 3.000 ekor saja di dunia. Padahal, penyu belimbing ini termasuk satwa yang unik. "Ini adalah spesies penyu terbesar. Ukurannya bisa sebesar mobil Honda Jazz," tutur Haznan.
KOMPAS.COM
Selasa, 30 Maret 2010 | 18:20 WIB
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Tanpa upaya penyelamatan konkret, populasi penyu di tanah air, khususnya Provinsi Lampung, bisa musnah. Induk penyu di pesisir Lampung Barat, salah satu kawasan habitat terbesar penyu, kini tersisa 308 ekor.
"Jumlah ini sangat sedikit jika dibandingkan panjang garis pantai tempat habitat penyu di Lampung Barat, yaitu 221 kilometer," ungkap Kepala Seksi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur, Naznan Meureka, Selasa (30/3/2010) di Seminar Kolaborasi Kebijakan pada Konservasi Penyu yang diadakan LSM Mitra Bentala.
Dari tujuh spesies penyu yang tersisa di dunia, enam diantaranya berada di Indonesia. Empat diantaranya kerap bertelur di Lampung Barat, yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik ( Erethmochyelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacca) dan penyu belimbing (Dermochelys coreacea).
Populasi penyu belimbing berkurang dratis, yaitu 97 persen dalam 22 tahun terakhir, kurang dari 3.000 ekor saja di dunia. Padahal, penyu belimbing ini termasuk satwa yang unik. "Ini adalah spesies penyu terbesar. Ukurannya bisa sebesar mobil Honda Jazz," tutur Haznan.
KOMPAS.COM
TIGA GAJAH SUMATERA DIDUGA SENGAJA DIBUNUH
Tiga Gajah Sumatera Diduga Sengaja Dibunuh
Rabu, 24 Maret 2010 | 17:41 WIB
Bangkai gajah JAMBI, KOMPAS.com — Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Jambi Didy Wurjanto mengatakan, kematian tiga gajah sumatera yang tengkoraknya ditemukan di lokasi rencana Hutan Tanaman Industri Kabupaten Tebo, Jambi, diduga terjadi akibat dibunuh.
"Dugaan dan dari analisis sementara, tiga gajah itu mati akibat dibunuh dengan cara diracun karena dianggap mengganggu tanaman sawit masyarakat setempat," kata Didy di Jambi, Rabu (24/3/2010), seraya menduga bahwa tiga gajah itu tergolong gajah dewasa.
Sedikitnya, tiga tengkorak gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan di areal rencana HTI di Kecamatan Serai Serumpun, Kabupaten Tebo.
Tengkorak tersebut ditemukan di dua tempat terpisah, yaitu di pertemuan Sungai Lalo dan di Sungai Pinang Belai dengan jarak sekitar 600 meter.
Tengkorak gajah itu ditemukan saat tim gabungan BKSDA Jambi dan Wildlife Protection Unit-Frankfurt Zoological Society (WPU-FZS) melakukan patroli dan survei distribusi gajah di wilayah tersebut.
Kepala BKSDA Jambi menjelaskan, kematian gajah itu berkaitan erat dengan konflik antara manusia dan gajah di sekitar habitatnya. Konfik ini terus terjadi di daerah itu sejak beberapa tahun terakhir.
Kawasan yang akan dijadikan HTI tersebut sebenarnya merupakan bagian dari habitat gajah, dan kini sebagian telah berubah menjadi kebun sawit. Dengan demikian, gajah secara otomatis akan memakan tanaman sawit karena makanan pokoknya sudah tidak didapati lagi.
Menurut dia, tanaman sawit masyarakat ini muncul karena perusahaan yang akan membuka HTI membawa masyarakat untuk menjadikan mereka sebagai petani plasma. Namun tanpa disadari, mereka telah merusak habitat gajah.
Gajah merupakan hewan tradisional. Mereka setiap tahun akan melintasi jalur yang sama manakala akan mencari makan, terutama antara Tebo dan Indragiri Hulu (Provnsi Riau) di tepi Taman Nasional Bukit Tiga Puluh yang datarannya rendah.
"Karena daerah lintasannya telah berubah menjadi kebun sawit, gajah-gajah itu terpecah. Sebagian masuk ke kebun sawit masyarakat dan merusaknya," kata Didy.
Oleh karena itu, agar kehidupan hewan bertubuh besar itu tidak terganggu, perusahaan yang akan membuka HTI tidak mengambil seluruh areal lintasan gajah.
"Pemerintah seharusnya juga membatasi agar perusahaan tidak seenaknya membuka areal hutan yang sebenarnya merupakan habitat atau lintasan gajah," ujar Didy yang juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi.
KOMPAS.COM
Rabu, 24 Maret 2010 | 17:41 WIB
Bangkai gajah JAMBI, KOMPAS.com — Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Jambi Didy Wurjanto mengatakan, kematian tiga gajah sumatera yang tengkoraknya ditemukan di lokasi rencana Hutan Tanaman Industri Kabupaten Tebo, Jambi, diduga terjadi akibat dibunuh.
"Dugaan dan dari analisis sementara, tiga gajah itu mati akibat dibunuh dengan cara diracun karena dianggap mengganggu tanaman sawit masyarakat setempat," kata Didy di Jambi, Rabu (24/3/2010), seraya menduga bahwa tiga gajah itu tergolong gajah dewasa.
Sedikitnya, tiga tengkorak gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan di areal rencana HTI di Kecamatan Serai Serumpun, Kabupaten Tebo.
Tengkorak tersebut ditemukan di dua tempat terpisah, yaitu di pertemuan Sungai Lalo dan di Sungai Pinang Belai dengan jarak sekitar 600 meter.
Tengkorak gajah itu ditemukan saat tim gabungan BKSDA Jambi dan Wildlife Protection Unit-Frankfurt Zoological Society (WPU-FZS) melakukan patroli dan survei distribusi gajah di wilayah tersebut.
Kepala BKSDA Jambi menjelaskan, kematian gajah itu berkaitan erat dengan konflik antara manusia dan gajah di sekitar habitatnya. Konfik ini terus terjadi di daerah itu sejak beberapa tahun terakhir.
Kawasan yang akan dijadikan HTI tersebut sebenarnya merupakan bagian dari habitat gajah, dan kini sebagian telah berubah menjadi kebun sawit. Dengan demikian, gajah secara otomatis akan memakan tanaman sawit karena makanan pokoknya sudah tidak didapati lagi.
Menurut dia, tanaman sawit masyarakat ini muncul karena perusahaan yang akan membuka HTI membawa masyarakat untuk menjadikan mereka sebagai petani plasma. Namun tanpa disadari, mereka telah merusak habitat gajah.
Gajah merupakan hewan tradisional. Mereka setiap tahun akan melintasi jalur yang sama manakala akan mencari makan, terutama antara Tebo dan Indragiri Hulu (Provnsi Riau) di tepi Taman Nasional Bukit Tiga Puluh yang datarannya rendah.
"Karena daerah lintasannya telah berubah menjadi kebun sawit, gajah-gajah itu terpecah. Sebagian masuk ke kebun sawit masyarakat dan merusaknya," kata Didy.
Oleh karena itu, agar kehidupan hewan bertubuh besar itu tidak terganggu, perusahaan yang akan membuka HTI tidak mengambil seluruh areal lintasan gajah.
"Pemerintah seharusnya juga membatasi agar perusahaan tidak seenaknya membuka areal hutan yang sebenarnya merupakan habitat atau lintasan gajah," ujar Didy yang juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi.
KOMPAS.COM
SUAKA MARGASATWA BALAI RAJA LENYAP
Suaka Margasatwa Balai Raja Lenyap
Senin, 5 April 2010 | 09:29 WIB
SEBANGA, KOMPAS.com — Suaka Margasatwa Balai Raja di Desa Sebanga, Duri, Riau, lenyap. Kawasan hutan seluas 16.000 hektar yang pada awal 1990-an ditetapkan sebagai areal konservasi gajah itu kini hampir tidak ada lagi karena sudah menjadi perkebunan kelapa sawit.
Saat Kompas berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) di Sebanga, Duri, yang berjarak 125 kilometer dari Pekanbaru, Sabtu (3/4/2010), kawasan yang masuk dalam Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja itu hanya tersisa sekitar 50 hektar. Lahan itu pun sudah diklaim sebagai kepunyaan warga.
PLG Sebanga pada Juni 1992 disahkan Gubernur Riau sebagai kawasan konservasi gajah seluas 5.873 hektar. PLG merupakan satu kesatuan kawasan dengan SM Balai Raja. PLG dibuat untuk tempat melatih gajah, sementara SM Balai Raja lebih diperuntukkan sebagai lahan relokasi gajah yang saat itu mulai memasuki permukiman penduduk, seperti di Desa Petani, Desa Balai Makam, dan Pangkalan Pudu, yang tidak jauh dari Sebanga.
Saat ini seluruh SM Balai Raja sudah hilang, sementara kawanan gajah tidak jadi direlokasi dan masih sering masuk permukiman penduduk.
Kawanan gajah liar saat ini kerap berkeliaran di Desa Petani, Desa Balai Makam, dan Pangkalan Pudu. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau tak mampu merelokasi gajah-gajah itu karena lokasi relokasi tidak ada lagi.
Menurut Herman Aruan, mantan pawang gajah yang masih bermukim di PLG Sebanga, sisa hutan yang 50 hektar pun tidak layak disebut hutan. Lahan itu berupa semak belukar dari rawa-rawa yang ada di sekeliling kawasan PLG. ”Kalau saja rawa-rawa itu berupa tanah keras, niscaya kawasan itu sudah lenyap seluruhnya,” katanya.
Kawasan perumahan pegawai PLG pun kini sudah ditanami kelapa sawit. Di lapangan, lahan yang tersisa hanyalah tempat bermain gajah seluas sekitar 2 hektar. ”Kami tidak berani mengungkit kepemilikan kelapa sawit di kawasan ini. Kami hanya bekerja sebagai pawang gajah. Lebih baik kami bekerja mengurus gajah daripada berkelahi dengan pemilik kelapa sawit,” ujar Irwansyah, pawang gajah senior.
Irwansyah menyebutkan, gajah di PLG Sebanga saat ini tinggal tujuh ekor.
Lintasan gajah
Syafriwan, Ketua RT 06 RW 10, Desa Petani, mengungkapkan, desanya adalah daerah lintasan gajah sepanjang tahun. Jumlah gajah itu diperkirakan 40 ekor sampai 45 ekor.
Gajah-gajah itu memiliki rute lintasan perjalanan tetap sepanjang tahun. Perjalanan gerombolan hewan bertubuh tambun tersebut biasanya dimulai dari Pelapit Aman di Pangkalan Pudu menuju Tegar. Setelah itu, kawanan tersebut akan kembali lagi ke Pelapit Aman. Perjalanan seperti itu terus berulang setiap tahun.
”Kami sudah tidak tahu lagi bagaimana cara mengusir gajah-gajah itu. Jika hewan-hewan itu masuk desa kami, kebun dan rumah pasti dirusak. Kami tidak mampu melawan, sementara pemerintah hanya diam. Kalau kami membunuh gajah itu, kami juga dikejar-kejar polisi,” ucap Syafriwan.
”Mengapa kalau gajah-gajah itu yang menyerang kami sehingga kehilangan harta dan nyawa, pemerintah hanya diam?” tanya Syafriwan.
KOMPAS.COM
Senin, 5 April 2010 | 09:29 WIB
SEBANGA, KOMPAS.com — Suaka Margasatwa Balai Raja di Desa Sebanga, Duri, Riau, lenyap. Kawasan hutan seluas 16.000 hektar yang pada awal 1990-an ditetapkan sebagai areal konservasi gajah itu kini hampir tidak ada lagi karena sudah menjadi perkebunan kelapa sawit.
Saat Kompas berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) di Sebanga, Duri, yang berjarak 125 kilometer dari Pekanbaru, Sabtu (3/4/2010), kawasan yang masuk dalam Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja itu hanya tersisa sekitar 50 hektar. Lahan itu pun sudah diklaim sebagai kepunyaan warga.
PLG Sebanga pada Juni 1992 disahkan Gubernur Riau sebagai kawasan konservasi gajah seluas 5.873 hektar. PLG merupakan satu kesatuan kawasan dengan SM Balai Raja. PLG dibuat untuk tempat melatih gajah, sementara SM Balai Raja lebih diperuntukkan sebagai lahan relokasi gajah yang saat itu mulai memasuki permukiman penduduk, seperti di Desa Petani, Desa Balai Makam, dan Pangkalan Pudu, yang tidak jauh dari Sebanga.
Saat ini seluruh SM Balai Raja sudah hilang, sementara kawanan gajah tidak jadi direlokasi dan masih sering masuk permukiman penduduk.
Kawanan gajah liar saat ini kerap berkeliaran di Desa Petani, Desa Balai Makam, dan Pangkalan Pudu. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau tak mampu merelokasi gajah-gajah itu karena lokasi relokasi tidak ada lagi.
Menurut Herman Aruan, mantan pawang gajah yang masih bermukim di PLG Sebanga, sisa hutan yang 50 hektar pun tidak layak disebut hutan. Lahan itu berupa semak belukar dari rawa-rawa yang ada di sekeliling kawasan PLG. ”Kalau saja rawa-rawa itu berupa tanah keras, niscaya kawasan itu sudah lenyap seluruhnya,” katanya.
Kawasan perumahan pegawai PLG pun kini sudah ditanami kelapa sawit. Di lapangan, lahan yang tersisa hanyalah tempat bermain gajah seluas sekitar 2 hektar. ”Kami tidak berani mengungkit kepemilikan kelapa sawit di kawasan ini. Kami hanya bekerja sebagai pawang gajah. Lebih baik kami bekerja mengurus gajah daripada berkelahi dengan pemilik kelapa sawit,” ujar Irwansyah, pawang gajah senior.
Irwansyah menyebutkan, gajah di PLG Sebanga saat ini tinggal tujuh ekor.
Lintasan gajah
Syafriwan, Ketua RT 06 RW 10, Desa Petani, mengungkapkan, desanya adalah daerah lintasan gajah sepanjang tahun. Jumlah gajah itu diperkirakan 40 ekor sampai 45 ekor.
Gajah-gajah itu memiliki rute lintasan perjalanan tetap sepanjang tahun. Perjalanan gerombolan hewan bertubuh tambun tersebut biasanya dimulai dari Pelapit Aman di Pangkalan Pudu menuju Tegar. Setelah itu, kawanan tersebut akan kembali lagi ke Pelapit Aman. Perjalanan seperti itu terus berulang setiap tahun.
”Kami sudah tidak tahu lagi bagaimana cara mengusir gajah-gajah itu. Jika hewan-hewan itu masuk desa kami, kebun dan rumah pasti dirusak. Kami tidak mampu melawan, sementara pemerintah hanya diam. Kalau kami membunuh gajah itu, kami juga dikejar-kejar polisi,” ucap Syafriwan.
”Mengapa kalau gajah-gajah itu yang menyerang kami sehingga kehilangan harta dan nyawa, pemerintah hanya diam?” tanya Syafriwan.
KOMPAS.COM
PULAU NUSAKAMBANGAN
Pulau Nusakambangan
CILACAP, KOMPAS.com — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Tengah Chairuddin Idrus berjanji menindak tegas anak buahnya jika terlibat pembalakan liar di hutan Nusakambangan.
"Kalau ternyata oknum-oknum itu melakukan pembalakan, tidak ada ampun lagi. Kalau wartawan tahu, laporkan ke saya, nama siapa, dari lapas mana, nanti akan diproses," tegasnya ketika dihubungi di Cilacap, Kamis (15/4/2010).
Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah Seksi Konservasi Wilayah II Pemalang-Cilacap menduga adanya keterlibatan oknum sipir penjara dalam pembalakan liar di hutan Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap.
"Dugaan ini kami peroleh dari laporan masyarakat di sekitar Pulau Nusakambangan," kata Koordinator Lapangan Polisi Hutan BKSDA Jawa Tengah Seksi Konservasi Wilayah II Pemalang-Cilacap Rahmat Hidayat di Cilacap, Kamis (15/4/2010).
Menurut dia, masyarakat yang juga membalak di hutan Nusakambangan mengaku diminta Rp 100.000 per tahun oleh pegawai penjara jika mereka ingin membuka hutan untuk lahan garapan.
Selain itu, lanjutnya, sejumlah operasi yang dilakukan polisi hutan untuk menangkap para pembalak liar sering kali bocor sehingga petugas pun gagal menangkap pelakunya. Sementara itu, Pengendali Ekosistem Hutan Teguh Arifianto mengatakan, BKSDA memperoleh informasi dari masyarakat bahwa oknum pegawai penjara sudah lama melegalkan pembalakan liar di hutan Nusakambangan.
"Informasi yang kami terima, di daerah Karangrena ada dua oknum yang diduga terlibat, masing-masing berinisial N dan B, sedangkan di Karangsari ada seorang oknum," kata Teguh yang bertugas di wilayah Nusakambangan Barat.
Dia mengaku pernah mendapat laporan adanya sejumlah sipir yang terlibat dalam pembalakan liar di Nusakambangan. Menurut dia, hal itu telah ditindaklanjuti dengan memberikan peringatan bagi oknum-oknum tersebut.
"Kami juga akan memberikan somasi bagi masyarakat yang bermukim di sekitar Pulau Nusakambangan untuk segera meninggalkan kawasan konservasi tersebut. Jika ada yang sudah terlanjur bercocok tanam, misalnya tanaman padi, kami beri kesempatan hingga masa panen," katanya.
Terkait pembukaan lahan untuk penanaman pohon sengon, dia mengatakan, pihaknya saat ini sedang menginventarisasinya dan lahan tersebut nantinya akan ditanami dengan tanaman asli Nusakambangan.
Menurut dia, Kemenhuk dan HAM menghendaki adanya pelestarian hutan di Pulau Nusakambangan yang ditandai dalam bentuk kerja sama dengan Kementerian Kehutanan beberapa waktu lalu.
Kementerian Kehutanan, lanjutnya, juga telah menyatakan siap memasok kebutuhan bibit pohon, khususnya pohon jati unggul nusantara untuk ditanam di Nusakambangan.
KOMPAS.COM
KOMPAS/TOMY TRINUGROHO
CILACAP, KOMPAS.com — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Tengah Chairuddin Idrus berjanji menindak tegas anak buahnya jika terlibat pembalakan liar di hutan Nusakambangan.
"Kalau ternyata oknum-oknum itu melakukan pembalakan, tidak ada ampun lagi. Kalau wartawan tahu, laporkan ke saya, nama siapa, dari lapas mana, nanti akan diproses," tegasnya ketika dihubungi di Cilacap, Kamis (15/4/2010).
Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah Seksi Konservasi Wilayah II Pemalang-Cilacap menduga adanya keterlibatan oknum sipir penjara dalam pembalakan liar di hutan Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap.
"Dugaan ini kami peroleh dari laporan masyarakat di sekitar Pulau Nusakambangan," kata Koordinator Lapangan Polisi Hutan BKSDA Jawa Tengah Seksi Konservasi Wilayah II Pemalang-Cilacap Rahmat Hidayat di Cilacap, Kamis (15/4/2010).
Menurut dia, masyarakat yang juga membalak di hutan Nusakambangan mengaku diminta Rp 100.000 per tahun oleh pegawai penjara jika mereka ingin membuka hutan untuk lahan garapan.
Selain itu, lanjutnya, sejumlah operasi yang dilakukan polisi hutan untuk menangkap para pembalak liar sering kali bocor sehingga petugas pun gagal menangkap pelakunya. Sementara itu, Pengendali Ekosistem Hutan Teguh Arifianto mengatakan, BKSDA memperoleh informasi dari masyarakat bahwa oknum pegawai penjara sudah lama melegalkan pembalakan liar di hutan Nusakambangan.
"Informasi yang kami terima, di daerah Karangrena ada dua oknum yang diduga terlibat, masing-masing berinisial N dan B, sedangkan di Karangsari ada seorang oknum," kata Teguh yang bertugas di wilayah Nusakambangan Barat.
Dia mengaku pernah mendapat laporan adanya sejumlah sipir yang terlibat dalam pembalakan liar di Nusakambangan. Menurut dia, hal itu telah ditindaklanjuti dengan memberikan peringatan bagi oknum-oknum tersebut.
"Kami juga akan memberikan somasi bagi masyarakat yang bermukim di sekitar Pulau Nusakambangan untuk segera meninggalkan kawasan konservasi tersebut. Jika ada yang sudah terlanjur bercocok tanam, misalnya tanaman padi, kami beri kesempatan hingga masa panen," katanya.
Terkait pembukaan lahan untuk penanaman pohon sengon, dia mengatakan, pihaknya saat ini sedang menginventarisasinya dan lahan tersebut nantinya akan ditanami dengan tanaman asli Nusakambangan.
Menurut dia, Kemenhuk dan HAM menghendaki adanya pelestarian hutan di Pulau Nusakambangan yang ditandai dalam bentuk kerja sama dengan Kementerian Kehutanan beberapa waktu lalu.
Kementerian Kehutanan, lanjutnya, juga telah menyatakan siap memasok kebutuhan bibit pohon, khususnya pohon jati unggul nusantara untuk ditanam di Nusakambangan.
KOMPAS.COM
KOMPAS/TOMY TRINUGROHO
Langganan:
Postingan (Atom)